Minggu, 05 Mei 2013

Pengalaman Kerja jadi Aslab


Kemarin saya sudah bercerita mengenai pengalaman test menjadi aslab, sekarang saya akan bercerita mengenai pengalaman kerjanya yang sudah saya lalui hampir sekitar 2 bulan. Awalnya rasa gugup dan canggung masih sangat berasa ketika mendapat tugas menjadi tutor, tetapi untuk semakin harinya sudah mulai terbiasa dan malah saat tugas menjadi tutor menjadi saat-saat tugas yang menyenangkan. Karena kita jadi dapat melatih diri berbicara didepan orang banyak, membantu kita dalam belajar bersosialisasi, dan menambah wawasan baru dengan hal-hal yang baru. Saat menjadi seorang  tutor adakalanya kita harus bersikap tegas agar praktikan tidak membuat gaduh, karena setiap kelas pastinya memiliki sifat yang berbeda-beda, ada beberapa kelas yang sangat ribut, ada kelas yang aktif, ada pula kelas yang pasif. Dan untuk mengemban tugas sebagai tutor kita harus mampu memahami situasi kelas, ketika kelas gaduh kita harus tegas menghadapinya, ketika kelas aktif kita juga harus banyak-banyak memberi latihan-latihan, dan ketika kelas pasif maka kita harus pintar-pintar memberi latihan dengan pemberian nilai bagi yang bisa menyelesaikannya dan biasanya hal ini akan memancing minat praktikan dalam mengikuti praktikum.
Saya juga mau bercerita dari beberapa kelas yang pernah saya tutor, saya sering mendapati hal-hal lucu yang dibuat oleh para praktikan saya, seperti salah satu kelas yang saya sebut kelas modus, karena anak-anak mahasiswanya yang mayoritas laki-laki sering sekali menggoda para asisten atau tutor perempuan, tetapi hal itu bagi saya cukup menarik karena memberikan nilai lucu tersendiri. Ketika menghadapi kelas itu saya lebih banyak tersenyum, karena kelucuan mereka.
Dan adapula kelas yang membuat saya cukup kelas, karena kelakuan praktikannya yang menurut saya kurang sopan terhadap kaka asisten yang berjaga, apalagi ketika mereka sudah mulai berbicara dengan nada kurang enak rasanya harus banyak-banyak bersabar menghadapi tingkah laku praktikan yang bersifat seperti itu.

Pengalaman Test Menjadi Aslab SI


Sudah berjalan hampir 2 bulan saya bekerja sebagai Asisten Laboratorium Sistem Informasi Universitas Gunadarma. Saya mau berbagi pengalaman saya selama bekerja sebagai aslab. Bermula dari ajakan teman sekelas yang telah menjadi aslab sebelumya, dia mengajak saya untuk coba melamar menjadi aslab, lalu saya ikut mencoba bersama 8 orang teman sekelas lainnya. Kemudian kami awalnya menaruh surat lamaran  kerja dan cv, lalu setelah seminggu kemudian saya dan teman-teman dihubungi pihak lab untuk mengikuti breafing dan 3 test yaitu test tutor, test interview, dan test program, dan acara ini akan dilangsungkan selama 3 hari.
Pada hari pertama saya mengikuti breafing dan untuk setiap peserta mendapat 2 materi yang telah diacak, dan saya mendapatkan materi java dan flash, karena saya pikir saya lebih paham mengenai flash maka saya mengambil keputusan untuk mengambil materi flash untuk dijadikan bahan test tutor saya. Esok harinya dihari test tutor saya merasa sangat deg-deg’an karena belum terbiasa berbicara didepan umum, tetapi berhubung saya cukup paham dengan materinya jadi saya sedikit lebih pede untuk mengikuti test tutor paling tidak kendalanya hanya cara penyampaian materinya didepan kakak asisten tetap yang berperan sebagai juri. Ketika nama saya yang dipanggil pertama rasa deg-degan bertambah parah karena mendapat urutan pertama. Lalu saya memasuki ruang test disana ada 3 orang juri yang siap menilai, lalu saya memulainya dengan salam dan mencoba berbica setenang mungkin agar perasaan gugup tidak terlalu tampak, saya juga mencoba berbicara keras karena itu salah satu persyarat sebagai aslab kita harus bisa berbicara lantang agar seluruh praktikan dapat mendengar materi yang disampaikan. Setelah mengikuti test tutor saya mengikuti test wawancara, dan rasanya jauh lebih deg-degan daripada test tutor. Saya di test wawancara oleh ka putri, beliau mengajukan berbagai macam pertanyaan dan saya berusaha untuk tidak gugup dalam menjawab pertanyaan beliau.  
Keesokan harinya, yaitu hari ketiga adalah test program. Test program diadakan 2 kali yaitu dengan materi yang berbeda. Saya mendapat materi java dan flash, untuk test program menurut saya tingkat kesulitannya lumayan. Saya hanya bisa mengerjakan test program java dengan membuat program menu, sedangkan untuk program flash saya tidak bisa menyelesaikannya berhubung soal yang diberikan sulit.
Setelah mengikuti serangkaian test-test sebagai syarat, maka pihak lab berkata akan memberikan sms kepada calon pelamar yang diterima sebagai aslab. Kemudian setelah seminggu menunggu maka saya mendapat sms dari pihak lab yang menyatakan bahwa saya diterima sebagai seorang asisten laboratorium sistem informasi, berita ini sangat membahagian karena ini merupakan babak baru dalam mencari pengalaman baru saya.